loading..

Sanctuary Maleo Hungayono

Terjual 3 Produk • 555x Dilihat


Pilih Jenis Karcis Masuk

Pilih Detail Karcis
-

Pilih Jenis Wisata

Pilih Kegiatan
-

Login dulu

Deksripsi


Objek wisata alam Hungayono terletak di Desa Tulabolo Kecamatan Suwawa Timur Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo. lokasi Hungayono mempunyai keindahan alam hutan primer sejuk, padang alang-alang, gua kapur dan gua sauna. Selain keindahan alam, ada beberapa satwa endemik yang bisa dijumpai seperti tarsius, maleo dan jenis burung endemik lainnya. Di Hungayono juga terdapat Sanctuary Maleo sebagai salah satu suaka burung maleo dari 3 lokasi yang ada di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yang dikenal dengan nama Sanctuary Maleo Hungayono.

 

Lokasi Sanctuary maleo Hungayono ini dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan baik roda 2 maupun roda 4.  Dari pusat Kota Gorontalo dapat diakses mengunakan kendaraan hingga ke desa Tulabolo dengan waktu tempuh ± satu jam atau ± 2 Jam dari Bandara Jalaluddin Gorontalo, yang kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju camp Hungayono dengan waktu tempuh ± 45 Menit.

 

Sama dengan sanctuary lainnya, aktivitas yang dapat dilakukan di lokasi ini antara lain mengamati perilaku burung maleo pada saat bertelur, mencari telur burung maleo, memindahkan telur yang diperoleh ke bak penetasan dan melepasliarkan anakan burung maleo. Untuk mengamati aktivitas maleo pada saat bertelur biasanya dilakukan pada pukul 05.00 – 10.00.  Wisatawan bisa melakukan pengamatan melalui pos pengamatan (menara pengintai).  Selain pengamatan maleo, di lokasi ini juga wisatawan dapat menikmati Goa Kapur, keindahan alam di puncak batu alang-alang, mandi sungai bone, Bird Watching dan Jungle Tracking.

 

Potensi obyek wisata ini didukung pula oleh sarana dan prasarana penunjang lainnya, seperti pondok kerja, jalan trail menuju areal peneluran, shelter, menara pengintai, hatchery, kandang habituasi, dan lain sebagainya.

 

Pengelolaan Sanctuary Maleo Hungayono saat ini juga telah mencoba berkolaborasi dengan kelompok masyarakat yang ada di sekitar lokasi.  Oleh karena itu, salah satu paket wisata andalan yang akan dikembangkan dan di kelola oleh kelompok masyarakat adalah “Foster Parent” .  Program Foster Parent atau orang tua asuh maleo merupakan salah satu upaya yang dilakukan Balai TNBNW untuk mengajak lebih banyak pihak, khususnya masyarakat baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri untuk mau peduli dan ikut berperan serta dalam upaya pelestarian maleo. Dalam pelaksanaannya, program Orang Tua Asuh Maleo ini akan dikelola oleh kelompok masyarakat yang sudah dibentuk oleh Balai TNBNW untuk mengelola wisata di sanctuary maleo.  Program orang tua asuh maleo secara resmi diluncurkan pada tanggal 20 Juli 2018 pada acara peresmian Sanctuaray Tambun dan Muara Pusian oleh Dirjen KSDAE di lokasi Sanctuary Tambun. Sebagai orang tua asuh maleo pertama adalah Ir. Wiratno, M.Sc (Dirjen KSDAE), Dra. Hj.Yasti Soepredjo (Bupati Bolaang Mongondow) dan Dr. H. Hamim Pou, S.Kom., M.H. (Bupati Bone Bolango)

 

Setiap masyarakat yang menjadi orang tua asuh maleo dapat mengikuti rangkaian kegiatan dalam rangka program orang tua asuh maleo, antara lain:

1. Amati

.Orang tua asuh maleo akan melakukan pengamatan kedatangan pasangan maleo yang akan bertelur di lokasi peneluran. Pengamatan ini dilakukan pada waktu maleo akan bertelur, yakni sekitar pukul 05.00 sampai pukul 10.00 WITA pada lokasi atau menara-menara pengintai yang telah disediakan. Dengan demikian, bagi masyarakat yang berniat menjadi orang tua asuh maleo disarankan untuk menginap di homestay yang sudah disiapkan kelompok masyarakat maupun di guest house yang ada di Sanctuary Maleo Tambun.

2. Cari dan Gali

Setelah mengamati kedatangan pasangan maleo yang akan bertelur di lokasi peneluran, selanjutnya orang tua asuk dapat mengikuti petugas taman nasional untuk mencari dan menggali telur-telur maleo di dalam lubang peneluran. Namun perlu diingat, bahwa sesuai prosedur tata kelola lokasi peneluran maleo yang sudah ditetapkan, selain petugas yang sudah ditunjuk tidak diperbolehkan untuk menggalo lubang peneluran. Hal ini untuk mencegah terjadinya kerusakan pada telur maleo. Dengan demikian, orang tua asuh hanya dapat melihat petugas menggali lubang peneluran dan menerima telur yang diperoleh dari lubang tersebut.

3. Timbun Kembali

Setelah orang tua asuh berhasil memperoleh telur maleo dari lubang peneluran, selanjutnya dia harus memindahkannya ke dalam bak penetasan semi alami (hatchery). Tujuan dari penimbunan kembali ini adalah untuk menetaskan telur maleo dengan kondisi yang lebih aman dari gangguan predator. Penimbunan kembali telur maleo di dalam hatchary oleh orang tua asuh juga harus ditemani oleh petugas. Telur yang ditimbun tersebut akan diberi nama sesuai dengan nama orang tua asuhnya.

4. Menanti

Masa inkubasi telur maleo adalah selama kurang lebih 60-80 hari. Selama masa inkubasi sampai pada hari menetasnya telur asuhnya, petugas akan memberikan kabar kepada orang tua asuh dalam bentuk laporan singkat dan dokumentasi dalam bentuk foto atau video.

5. Lepaskan lagi

Setelah telur menetas, petugas akan menawarkan kepada orang tua asuh maleo untuk ikut melepasliarkan anakan maleo asuhannya atau cukup dengan hanya mewakilkan kepada petugas. Anakan maleo yang menetas tersebut akan dilepasliarkan kembali ke dalam hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Bagi orang tua asuh yang tidak bisa mengikuti proses pelepasliaran anakan maleo asuhannya, maka petugas akan membuatkan dokuemnatasi dalam bentuk foto atau video release dan mengirimkannya kepada orang tua asuh tersebut.

6. Donasi

Setiap masyarakat yang berminat untuk menjadi orang tua asuh maleo, maka dia berkewajiban membayar sejumlah uang sebagai donasi untuk konservasi maleo. Besarnya donasi tersebut ditetapkan oleh kelompok masyarakat yang menjadi pengelola sanctuary maleo tersebut. Pembayaran donasi ini dilakukan setelah calon orang tua asuh maleo memilih lokasi.  Selanjutnya dana tersebut akan dikelola oleh kelompok masyarakat untuk digunakan dalam berbagai bentuk kegiatan yang mendukung konservasi maleo, seperti penanaman pohon pakan dan tenggeran maleo, pembelian pakan anakan maleo yang ada di kandang habituasi serta kebutuhan konservasi lainnya.

 

Bagi masyarakat yang sudah berperan serta menjadi orang tua asuh maleo di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone akan mendapatkan kenang-kenangan berupa sertifikat orang tua asuh maleo, Pin Orang Tua Asuh Maleo,Info dan dokumenatsi anakan menetas sampai pelepasliaran maleo.

 

Selain itu, Potensi yang ada di Desa Tulabolo terutama di site Hungayono adalah :

1. Panorama Alam; Lahan Perkemahan; Air Panas; Gua Alam; Sungai; Arum Jeram; Penelusuran Hutan; jalan reking; berspeda; dan kanopi trail.

2. Satwa; maleo, taersius, rangkong, monyet, dan aneka burung

3. Buah buahan : langsat, durian, mangga, pisang (sale/dompo), kelapa (minyak kampung) bambu, dan tanaman obat.

3. penelitian dan pendidikan lingkungan